Recently Published
LAPORAN PRAKTIKUM PERTEMUAN 1
Feature enginering merupakan salah satu tahapan krusial dalam pengembangan model machine learning (Guyon et al., 2006; Kuhn & Johnson, 2013). Proses ini melibatkan transformasi data mentah menjadi fitur-fitur yang dapat merepresentasikan pola mendasar dari data dengan lebih baik, sehingga meningkatkan kinerja model prediktif (Bengio et al., 2013; Domingos, 2012). Kualitas fitur yang digunakan sangat memengaruhi kemampuan model untuk mempelajari hubungan yang kompleks dalam data dan membuat prediksi yang akurat (Hastie et al., 2009; James et al., 2013).
Dalam konteks analisis data cuaca, seperti dataset yang digunakan dalam penelitian ini, feature engineering menjadi sangat relevan (Krasnopolsky & Schmehl, 2011; McGovern et al., 2019). Data cuaca seringkali mengandung berbagai tantangan, termasuk nilai yang hilang (missing values), outlier, dan variabel kategorikal dengan kardinalitas tinggi (Junninen et al., 2004; Weerasinghe et al., 2019). Penanganan yang tepat terhadap isu-isu ini melalui teknik feature engineering dapat secara signifikan memperbaiki kualitas data input dan, pada gilirannya, meningkatkan akurasi model prediksi cuaca, seperti prediksi hujan (GarcĂa et al., 2010; Lipton et al., 2016).
Penelitian ini akan mengeksplorasi berbagai teknik feature engineering yang umum digunakan, seperti imputasi nilai hilang, penanganan outlier, pengurangan kardinalitas, encoding variabel kategorikal, dan scaling fitur numerik (Ciaburro & Barrinello, 2018; Geron, 2019). Dengan menerapkan teknik-teknik ini pada dataset cuaca, diharapkan dapat ditunjukkan bagaimana feature engineering dapat berkontribusi pada peningkatan performa model machine learning dalam memprediksi kejadian hujan (Krasnopolsky & Schmehl, 2011; Roebber et al., 2004).